![]() |
| Petugas ketika menunjukkan sisa longsoran di lokasi. |
Peristiwa tragis ini merenggut nyawa Imron Rosadi (40) dan putri kecilnya, Hilya (9), setelah kediaman mereka tertimbun material tebing setinggi 10 meter yang ambrol.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa kedua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia saat tim gabungan dan warga berhasil menembus lokasi kejadian.
"Korban yang ditemukan meninggal Bapaknya, Imron Rosadi, dan anaknya perempuan, Hilya," kata Isnugroho saat memberikan keterangan resmi.
Kronologi Hujan Deras hingga Terisolasi Gulita
Petaka yang menimpa keluarga Imron bermula dari guyuran hujan berintensitas tinggi yang melanda wilayah Kecamatan Pronojiwo sejak Jumat (30/10/2026) siang pukul 13.00 WIB. Hujan ekstrem tanpa henti tersebut memicu penurunan stabilitas tanah di sekitar lereng tebing.
Situasi kian mencekam ketika pasokan listrik PLN padam total di tengah derasnya hujan sekitar pukul 00.30 WIB. Puncaknya terjadi pada pukul 02.10 WIB, tatkala tebing sepanjang 8 meter di atas pemukiman mendadak runtuh dan menghantam keras bagian belakang rumah Imron.
Upaya pertolongan awal sempat terkendala cuaca ekstrem. Menurut Isnugroho, warga sekitar tidak berani mendekati titik longsor sesaat setelah kejadian karena situasi lokasi yang membahayakan.
"Warga sekitar belum berani menuju lokasi kejadian untuk memberi pertolongan mengingat hujan masih deras, kabut tebal, dan listrik padam. Selain itu, karena jarak rumah masih berjauhan, warga takut keluar," tutur Isnugroho menjelaskan kendala evakuasi malam itu.
Jasad ayah dan anak tersebut baru berhasil dievaluasi sekitar pukul 04.30 WIB ketika hujan mulai mereda dan warga memberanikan diri mendekati reruntuhan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengonfirmasi bahwa kedua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia saat tim gabungan dan warga berhasil menembus lokasi kejadian.
"Korban yang ditemukan meninggal Bapaknya, Imron Rosadi, dan anaknya perempuan, Hilya," kata Isnugroho saat memberikan keterangan resmi.
Kronologi Hujan Deras hingga Terisolasi Gulita
Petaka yang menimpa keluarga Imron bermula dari guyuran hujan berintensitas tinggi yang melanda wilayah Kecamatan Pronojiwo sejak Jumat (30/10/2026) siang pukul 13.00 WIB. Hujan ekstrem tanpa henti tersebut memicu penurunan stabilitas tanah di sekitar lereng tebing.
Situasi kian mencekam ketika pasokan listrik PLN padam total di tengah derasnya hujan sekitar pukul 00.30 WIB. Puncaknya terjadi pada pukul 02.10 WIB, tatkala tebing sepanjang 8 meter di atas pemukiman mendadak runtuh dan menghantam keras bagian belakang rumah Imron.
Upaya pertolongan awal sempat terkendala cuaca ekstrem. Menurut Isnugroho, warga sekitar tidak berani mendekati titik longsor sesaat setelah kejadian karena situasi lokasi yang membahayakan.
"Warga sekitar belum berani menuju lokasi kejadian untuk memberi pertolongan mengingat hujan masih deras, kabut tebal, dan listrik padam. Selain itu, karena jarak rumah masih berjauhan, warga takut keluar," tutur Isnugroho menjelaskan kendala evakuasi malam itu.
Jasad ayah dan anak tersebut baru berhasil dievaluasi sekitar pukul 04.30 WIB ketika hujan mulai mereda dan warga memberanikan diri mendekati reruntuhan.
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta perangkat desa yang tiba di lokasi pukul 05.30 WIB langsung membawa kedua jenazah ke rumah orang tua korban di Dusun Manggisan untuk dimakamkan.
Kerusakan Material dan Peringatan Bencana Susulan
Selain menelan dua korban jiwa, material tanah dan dinding pagar rumah milik warga di atas tebing yang ikut hancur merusakkan bangunan dapur, kamar mandi, kamar belakang, hingga gudang rumah almarhum Imron.
Kerusakan Material dan Peringatan Bencana Susulan
Selain menelan dua korban jiwa, material tanah dan dinding pagar rumah milik warga di atas tebing yang ikut hancur merusakkan bangunan dapur, kamar mandi, kamar belakang, hingga gudang rumah almarhum Imron.
Dampak longsor juga merusak area dapur dan memuntahkan endapan lumpur hingga ke ruang tengah rumah Wardi (60), warga di sekitarnya.
Menanggapi kerentanan geografis wilayah tersebut, BPBD Lumajang melayangkan peringatan tegas kepada masyarakat yang bermukim di dekat lereng untuk meningkatkan kewaspadaan penuh selama musim penghujan.
"Banyak rumah warga berada di sebelah tebing yang cukup tinggi, sehingga sangat rawan terjadi longsor saat curah hujan tinggi," pungkas Isnugroho mengimbau potensi ancaman longsor susulan. ***
Menanggapi kerentanan geografis wilayah tersebut, BPBD Lumajang melayangkan peringatan tegas kepada masyarakat yang bermukim di dekat lereng untuk meningkatkan kewaspadaan penuh selama musim penghujan.
"Banyak rumah warga berada di sebelah tebing yang cukup tinggi, sehingga sangat rawan terjadi longsor saat curah hujan tinggi," pungkas Isnugroho mengimbau potensi ancaman longsor susulan. ***
