![]() |
| Ilustrasi |
Lumajang – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang menemukan setidaknya dua kasus diabetes melitus pada anak sepanjang 2026. Temuan ini menjadi perhatian serius setelah daerah tersebut mencatatkan 23.971 kasus diabetes melitus pada 2025.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Lumajang, dr. Marshall, menjelaskan bahwa anak-anak di bawah 15 tahun umumnya mengidap diabetes tipe 1 akibat gangguan autoimun yang menyerang pankreas.
"Pengobatannya harus menggunakan insulin buatan yang disuntikkan. Karena puskesmas tidak bisa memberikan suntik insulin, anak-anak biasanya langsung berobat dan kontrol rutin di rumah sakit," ujar dr. Marshall, Rabu (19/8/2026).
Sementara itu, rekapitulasi data penderita diabetes tahun 2026 masih berlangsung. Namun, gambaran kasus tahun sebelumnya menunjukkan mayoritas penderita dewasa mengidap diabetes tipe 2, yang dipicu oleh menurunnya efektivitas kerja insulin dalam tubuh.
Penyebab utama tipe 2 adalah pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi gula berlebih, kurang aktivitas fisik, merokok, dan obesitas. Jika kadar gula darah terus melonjak, penderita berisiko mengalami komplikasi fatal mulai dari penyakit jantung koroner, stroke, kerusakan ginjal, hingga gangguan saraf.
Masyarakat diminta tidak mengabaikan tiga gejala awal diabetes (3P):
Poliuri: Sering buang air kecil.
Polidipsi: Mudah merasa haus.
Polifagi: Mudah merasa lapar.
Gejala lain yang kerap menyertai meliputi penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab jelas dan rasa lelah berlebihan.
Dokter Marshall menegaskan bahwa diabetes melitus tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi bisa dikendalikan melalui terapi obat, suntikan insulin, dan penyesuaian gaya hidup sehat agar pasien terhindar dari komplikasi berat. ***
