Humaniora

Ritual Nyadran Puncak Perayaan Karo 2026 di Ranupani, Wujud Syukur Suku Tengger

Ritual nyadran suku tengger Lumajang

Lumajang - Ratusan warga Suku Tengger menggelar ritual Nyadran yang menjadi puncak perayaan Hari Raya Adat Karo 2026 di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026). 

Dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer dari rumah Romo Dukun menuju makam leluhur, warga mengarak aneka hidangan adat sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu serta ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanah dan hasil pertanian mereka.

Dalam prosesi tersebut, masyarakat dari berbagai usia—mulai dari anak-anak hingga orang tua—tampak memadati area pemakaman untuk menabur bunga dan memanjatkan doa secara bergantian.

 Warga juga membawa hidangan khas bernama tamping, yaitu sajian masakan sehari-hari berselimut daun pisang yang ditujukan sebagai bentuk sedekah dalam rangkaian ritual.

"Ini kita menghormati dan mengingat perjuangan para leluhur. Juga bersyukur kita di sini bertani, menanam kentang, bawang, tanahnya subur," ujar salah satu warga Suku Tengger, Mamik Forinta, di lokasi prosesi.

Selain sebagai ritual spiritual dan ungkapan syukur, keterlibatan anak-anak dalam Nyadran diposisikan sebagai langkah regenerasi untuk menjaga kelestarian tradisi adat Tengger secara turun-temurun.

Ketua Pelestari Adat, Sampurno, menegaskan bahwa perayaan Karo dan ritual Nyadran menjadi simbol perekat sosial masyarakat setempat. Keberagaman agama yang dianut warga Ranupani tidak mengurangi kesadaran bersama untuk terus merawat warisan budaya leluhur.

"Pada intinya semua masyarakat itu walaupun agama berbeda-beda, harus mengikuti peraturan adat. Kalau agama itu keyakinan masing-masing. Kalau adat itu yang punya masyarakat. Jadi bersama dilaksanakan dan dijaga," tegas Sampurno. ***