Antisipasi Megathrust, BPBD Jatim Gelar Simulasi Evakuasi Tsunami di Pesisir Lumajang
![]() |
| Sosialisasi penanggulangan bencana |
Kegiatan yang berlangsung pada 25–26 April 2026 ini dilaksanakan guna memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional.
Simulasi ini melibatkan sedikitnya 300 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Fokus utama evakuasi diarahkan pada kelompok rentan, mencakup lansia, anak-anak, perempuan, hingga penyandang disabilitas.
Dalam latihan ini, masyarakat dihadapkan pada skenario gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 9,1 yang bersumber dari laut selatan Jawa Timur. Berdasarkan data BMKG, potensi tsunami diprediksi muncul 26 menit setelah guncangan.
Warga diarahkan segera menuju blue zone atau zona aman di kaki Gunung Kursi. Langkah ini krusial mengingat Desa Tegalrejo berada tepat di depan zona megathrust yang berpotensi memicu gelombang setinggi 15 meter dengan jangkauan hingga 3 kilometer ke daratan.
Sekretaris BPBD Jawa Timur, Andhika Nurrahmad Sudigda, menegaskan bahwa simulasi ini bertujuan mengubah pola pikir masyarakat agar kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari keseharian.
“Budaya sadar bencana semestinya melekat menjadi gaya hidup masyarakat. Ilmu mengenai evakuasi mandiri ini harus ditularkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Andhika.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi nyata, waktu kritis penyelamatan hanya berkisar 20 menit. Oleh karena itu, kecepatan evakuasi mandiri adalah faktor penentu dalam meminimalisir risiko korban jiwa.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian internasional dengan kehadiran perwakilan Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui. Simulasi ini merupakan bagian dari Program SIAP SIAGA, sebuah kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Australia dalam manajemen risiko bencana.
Christine mengapresiasi penerapan buddy system atau penunjukan penanggung jawab khusus di setiap lingkungan untuk mempercepat proses evakuasi.
“Kegiatan multipihak seperti ini sangat penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat dalam merespons situasi darurat secara kolektif,” tutur Christine.
Selain masyarakat lokal, simulasi ini melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, Tenaga Kesehatan, dan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana.
Melalui latihan rutin ini, BPBD Jatim berharap sistem evakuasi yang terintegrasi hingga tingkat dusun dapat terbentuk secara permanen, sehingga masyarakat pesisir selatan Jawa Timur menjadi lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan. ***
