Fenomena 'Ikan Mabuk' di Ranu Klakah, Warga Panen Raya Saat Harga Ikan Anjlok
.png)
Lumajang — Fenomena musiman "ikan mabuk" kembali menerjang kawasan Danau Ranu Klakah, Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu (12/7/2026). Peristiwa ini memicu ratusan warga berbondong-bondong memadati danau untuk memanen ikan liar, sekaligus memaksa para petani keramba melakukan panen dini akibat ancaman kerugian.
Diduga kuat, fenomena yang melumpuhkan sebagian populasi ikan ini dipicu oleh kombinasi suhu dingin ekstrem serta naiknya kandungan belerang akibat aktivitas Gunung Lemongan saat puncak musim kemarau.
Melimpahnya hasil tangkapan berbekal tombak, jaring, dan jala membuat warga berinisiatif membuka lapak dagangan dadakan di bahu jalan sekitar danau. Tingginya pasokan secara drastis menekan harga jual ikan di pasaran lokal.
Yulis, salah satu pedagang dadakan di lokasi, mengonfirmasi penurunan harga tersebut.
"Sekarang dijual Rp28 ribu per kilogram, sebelumnya sekitar Rp33 ribu per kilogram. Banyaknya ikan yang berhasil ditangkap membuat harga jual harus disesuaikan agar segera terjual," ujar Yulis.
Jenis ikan yang paling dominan muncul ke permukaan danau meliputi ikan nila dan udang. Menurut Zuremi, warga setempat, fenomena ini hampir selalu berulang setiap tahun saat cuaca dingin ekstrem melanda kawasan tersebut.
Meski membawa berkah bagi warga sekitar dan pembeli, fenomena ini justru membawa dampak negatif bagi para pembudidaya ikan keramba jaring apung. Guna menekan risiko kematian massal, para petani terpaksa memanen ikan mereka lebih awal.
Narwi, seorang petani ikan keramba lokal, mengaku mengalami penyusutan pendapatan akibat kondisi cuaca ekstrem ini.
"Tadi subuh saya angkat, saya jual, alhamdulillah masih laku. Kerugiannya sekitar 15 persen," ungkap Narwi. Menurutnya, memanen lebih awal adalah langkah paling rasional untuk menyelamatkan modal usaha.
Fenomena perubahan kondisi air dan suhu dingin di Danau Ranu Klakah ini diperkirakan masih akan berlangsung selama satu hingga dua pekan ke depan sebelum kondisi perairan kembali normal. ***